Arsitektur Tradisional Rumah Adat Jawa

Rumah tradisional Jawa, merupakan rumah yang ditandai dengan hierarki dominan dan biasa tercermin dari bentuk atap rumah tersebut. Tata letak rumah tradisional Jawa sangat mirip antara 1 rumah dengan rumah lain, namun bentuk atapnya ditentukan sesuai dengan status sosial dan ekonomi dari si pemilik rumah tersebut.

Karena dulu sesuai dengan struktur masyarakat Jawa beserta tradisinya, rumah – rumah tradisional Jawa diklasifikasikan menurut bentuk atap mereka. Dari yang palin rendah ke tinggi ada Kampung, Limasan, dan Joglo.

Pada rumah kampung yang merupakan miliki rakyat biasa, jika dilihat secara struktur, atapnya merupakan atap yang paling sederhana. Atap puncaknya bersandar di 4 tiang tengah dan ditunjang dengan 2 lapis tiang pengikat. Bubungan atapnya ditunjang dengan penyangga sumbu yang khas.

Untuk rumah Limasan yang digunakan untuk rumah keluarga Jawa yang memiliki status lebih tinggi, ini merupakan jenis rumah yang paling umum. Denah dasar dari 4 tiang diperluas dengan cara menambahkan sepasang tiang pada salah satu ujung dari atap.

Sedangkan untuk Joglo yang merupakan tempat tinggal pada bangsawan, memiliki beberapa ciri khas, yaitu atapnya lebih curam. Sementara bubungannya tidak sepanjang rumah limasan. Pada 4 tiang utama ada susunan tumpang sari. Kalau rumah Joglo terjadi kerusakan, maka perbaikannya tidak boleh mengubah bentuk semulanya. Karena orang Jawa percaya kalau diubah akan memberikan pengaruh yang kurang baik untuk si penghuni rumah.

Dulu orang Jawa memiliki kekerabatan dekat dengan bangsa Austronesia. Bahkan pada relief Candi Borobudur yang dibangun pada abad ke-9 menunjukkan kalau rumah Jawa adalah pola dasar dari rumah Austronesia.

Arsitektur dari rumah adat Jawa sangat dipengaruhi oleh arsitektur kolonial Belanda, dan juga berkontribusi pada arsitektur modern yang ada di Indonesia di abad ke 20. Kedatangan dari orang Eropa di abad ke 16 dan 17 memperkenalkan baru dan juga batu bata di dalam kontruksi rumah. Ini banyak digunakan orang – orang kaya pada waktu itu.

Selain itu bentuk rumah tradisional Jawa juga mempengaruhi perkembangan dari arsitektur kolonial Belanda di Indonesia. Di awal abad ke 19, rumah Hindia Belanda memiliki bentuk yang menyerupai rumah Jawa. Ini karena rumah seperti ini dapat melawan panas tropis dan juga hujan yang lebat, tapi tetap bisa mengalirkan udara di bagian dalam rumah.

Bangunannya sendiri tidak jauh berbeda dengan rumah tradisional Bali. Idealnya rumah – rumah ini terdiri dari 3 bangunan utama, yaitu Omah, Pendapa, dan Peringgitan.

Pada bagian pendopo atau pavilion, terletak pada bagian depan kompleks. Tempat ini biasa digunakan sebagai tempat menerima tamu, pertemuan sosial, juga pertunjukan ritual. Pendopo memiliki atap Joglo dan hanya ada pada kompleks orang kaya.

Pringgitan merupakan ruang yang akan menghubungkan pendopo dengan rumah. Ini merupakan tempat untuk ringgit atau dalam artian bermain wayang. Memiliki bentuk atap kampung atau Limasan.

Terakhir ada Omah yang merupakan rumah utamanya. Omah berartikan rumah dari bahasa Austronesia dan biasanya memiliki letak persegi atau panjang dengan lantai yang ditinggikan. Di bagian tengah, menggunakan bentukan atap limasan atau Joglo. Pada bagian bawah atap terbagi oleh bilang dinding yang menjadi daerah bagian dalam dan luar.

Itu tadi merupakan ulasan singkat mengenai rumah adat Jawa, semoga informasi ini bisa bermanfaat untuk Anda yang tengah mencari informasi seputar rumah adat Jawa ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *